Back to Nature

kegiatan siswa di kebun.

Kegiatan Luar

mengenalkan anak tentang dunia luar.

Kegiatan Rekreasi Alam Terbuka

Keceriaan anak anak saat bermain air.

Kegiatan Siswa di Alam Terbuka

Mengunjungi Ladang Padi.

Rabu, 05 September 2012

anak adalah sebuah amanah



Menjadi seorang ibu merupakan salah satu dari sekian anugerah besar bagi kaum perempuan.
Bagaimana tidak, menjadi seorang ibu tak ubahnya menjadi wanita pilihan Allah yang dititipkan untuk mengandung, melahirkan, dan mendidik titipanNya yaitu anak.
Saya selalu tak habis pikir dengan kenyataan adanya ibu-ibu yang tega menggugurkan kandungan, ataupun membuang bayinya di kotak sampah !
Saya juga tak bisa menerima kenyataan bahwa anak-anak diperlakukan dengan tidak berperi-keanakan (ini istilah saya sendiri, hehe..)
Saya juga tak bisa mendakwa anak-anak yang sudah mengenal rokok sejak usia empat tahun sebagai pihak yang bersalah.
Karena sejatinya anak tidak bisa disalahkan atas apapun perbuatannya yang dianggap salah. Anak belum bisa menggunakan akal dan pikirannya, belum bisa memilah baik dan buruk apatah lagi menimbangnya.
Semua kesalahan yang dilakukan anak adalah murni 100% kesalahan orangtuanya.

Anak sejatinya adalah peniru atau pembelajar yang terbaik.
Mereka hanya belajar dari orangtua dan lingkungannya.
Setiap anak dilahirkan dalam fitrahnya, maka orangtuanyalah yang menjadikan dia seorang Majusi, Nasrani, atau yahudi.
Jika anak diasuh oleh orangtua yang merokok, terbiasa melihat orang dewasa merokok , itu sama artinya kita telah mengajarkannya merokok.
Jika anak diasuh oleh orangtua yang (maaf) binal, terbiasa melihat ibu dan wanita-wanita di lingkungannya berpakaian tidak sopan, itu sama artinya mengajarkannya untuk berpakaian dan berlaku tidak senonoh.
Jika anak diasuh oleh orangtua yang menyukai kerapihan, kebersihan, keteraturan,  itu sama artinya mengajarkan anak  peduli terhadap lingkungan.

Jika anak diasuh oleh orangtua yang taat beribadah, beradab sopan santun, itu sama artinya mengajarkan anak untuk mengedepankan nilai-nilai spiritualnya.
Dengan demikian, hendaknya kita jangan pernah menyalahkan anak-anak atas kesalahan apapun yang mereka perbuat.
Karena sebetulnya tak lain tak bukan itu adalah semata kesalahan orangtuanya.
Anak adalah cerminan prilaku orangtuanya. Maka jadilah orangtua  pembelajar, orangtua yang selalu punya waktu untuk mendidik dan mengasuh anak-anaknya dengan cara yang benar.
Anak adalah investasi terbesar bagi setiap orangtua, sehingga dalam sebuah hadits disebutkan : “Jika orangtua memiliki anak yang menjadi penghafal Al-quran maka di akhirat nanti  orangtuanya akan diberikan mahkota terbuat dari emas”.
Betapa agung pemuliaan terhadap orangtua yang dianggap telah sukses mengasuh dan mendidik anak-anaknya.
Anak adalah amanah, maka jadilah orangtua yang bisa menjaga amanah.
Betapa beruntungnya jika kita bisa memberikan pola asuh yang benar kepada anak-anak kita, mengukir mereka dengan pahatan terbaik dan terindah.
Seperti apa pahatan terbaik dan terindah ?
Yaitu jika orangtuanya telah tiada maka tetap mengalir doa-doa yang dipanjatkan dari anak-anaknya, yang selalu teriring dalam setiap sujud dan doa untuk  memohonkan ampunan dan keselamatan bagi orangtuanya di alam barzah.

Inilah sebaik-baik bekal bagi setiap orangtua, bukanlah bekal harta yang berlimpah ruah, ataupun tahta kedudukan yang tinggi di mata manusia.
Tapi sebaik-baik bekal adalah anak-anak yang sholih, yang akan selalu menyertakan nama orangtua dalam setiap munajatnya.
Maka sebagai orangtua yang baik, kita harus mampu untuk menegur kesalahan anak, memberitahunya, menunjukkan kekeliruannya. Tentunya dengan cara yang disesuaikan dengan usia dan tingkat pemahaman anak.
Jangan merasa sungkan melakukannya hanya dengan alasan “maklum” masih anak-anak.
Justru anak-anak lebih mudah  diajari karena mereka adalah pembelajar terbaik.  Berikan pemahaman dan alasan mengapa mereka tidak boleh melakukan ini dan itu, sehingga mereka tidak akan mengulangi bahkan bisa menegur temannya jika melakukan kesalahan yang sama.

Maka cukuplah kita menjadi orangtua pembelajar, yang menjadikan anak sebagai cerminan perilaku kita sehingga kita selalu belajar dari kesalahan kita, dan  belajar mengasuh anak dengan cara yang semestinya, semua itu karena anak adalah amanah dan setiap orangtua akan ditanya bagaimana mengemban amanahnya.

Kamis, 23 Februari 2012

Lowongan Guru


SDIT Insan Madani Membutuhkan Guru Kelas dengan ketentuan :
 1. Islam Taat
2. Mampu berbahasa Inggris aktif/pasif
3. Pria/wanita umur maksimal 30 tahun
4. Mampu mengoperasikan komputer
5. Pengalaman lebih diutamakan
6. Pendidikan Minimal S-1
Kirim lamaran ke: Jl. Tanjung Rt1/RW1 Desa Jatisari Kec. Geger Kab.Madiun atau
paling lambat 1 April 2012

Rabu, 25 Januari 2012

PENGARUH NAMA PADA ANAK

PENGARUH NAMA PADA ANAK Para ahli sosiologi berpendapat bahwa nama yang berikan orangtua kepada anaknya akan mempengaruhi kepribadian, kemampuan anak dalam berinteraksi dengan orang lain, dan bagaimana cara orang menilai diri si pemilik nama. Banyak alasan dan pertimbangan para orangtua dalam memilihkan nama anak. Ada yang menyukai anaknya memiliki nama yang unik dan tidak ‘pasaran’. Mungkin mereka tidak suka membayangkan ketika nama anaknya dipanggil di depan kelas, ternyata ada lima orang anak yang maju karena kebetulan namanya sama. Ada yang lebih suka anaknya memiliki nama yang singkat dan mudah diingat. Orangtua seperti ini akan beralasan, “Toh nanti anakku akan dipanggil dengan nama bapaknya di belakang namanya.” Walaupun pernah kejadian orang Indonesia yang diharuskan mengisi suatu formulir di negara Eropa agak kebingungan karena diharuskan mengisi kolom nama keluarga. Padahal sebagaimana juga kebanyakan orang Indonesia, nama yang ada di kartu indentitasnya hanya nama tunggal, tanpa nama keluarga atau bin/binti. Beberapa orangtua lain memilihkan nama yang megah untuk buah hati mereka. Sementara bagi kalangan tertentu ada kepercayaan jika anak ‘keberatan nama’ nanti bisa sakit-sakitan. Sebagian orang ada yang menganggap nama sebagai sesuatu yang biasa, sekedar identitas yang membedakan seseorang dengan yang lain. Ada lagi yang memilihkan nama untuk anaknya berdasarkan rasa penghargaan terhadap seseorang yang dianggap telah berjasa atau dikagumi. “As a tribute to,” demikian alasannya. Sebagai orangtua, kita perlu tahu makna dari sebuah nama dan mempertimbangkan yang terbaik untuk anak kita. Bayangkan bahwa anak kita akan menyandang nama tersebut sejak tertulis di akte kelahiran, hingga di hari akhir nanti. Bagi umat muslim, nama adalah doa yang berisi harapan masa depan si pemilik nama. Para calon orang tua yang peduli tidak hanya berusaha memilih nama yang indah bagi anaknya, tapi juga nama yang memiliki arti yang baik dan memberikan dampak atau sugesti kebaikan bagi anak. Dr. Abdullah Nashih Ulwan dalam buku Pedoman Pendidikan Anak dalam Islam menyebutkan beberapa hal penting tentang pemberian nama kepada anak. Menurut beliau kita para orangtua hendaknya: 1. Memberikan nama segera setelah bayi dilahirkan. Lamanya berkisar antara sehari hingga tujuh hari setelah dilahirkan. Dalam sebuah hadits Rasulullah saw. bersabda, “Tadi malam telah lahir seorang anakku. Kemudian aku menamakannya dengan nama Abu Ibrahim.” (Muslim). Dari Ashhabus-Sunan dari Samirah, Rasulullah saw. bersabda, “Setiap anak itu digadaikan dengan aqiqahnya. Disembelihkan (binatang) baginya pada hari ketujuh (dari hari kelahiran)nya, diberi nama, dan dicukur kepalanya pada hari itu.” 2. Memperhatikan petunjuk pemberian nama, dengan mengatahui nama-nama yang disukai dan dibenci. Ada pun nama-nama yang dianjurkan Rasulullah saw. adalah: • Nama-nama yang baik dan indah. Rasulullah saw. menganjurk, “Sesungguhnya pada hari kiamat nanti kamu sekalian akan dipanggil dengan nama-nama kamu sekalian dan nama-nam bapak-bapak kamu sekalian. Oleh karena itu, buatlah nama-nama yang baik untuk kamu sekalian.” • Nama-nama yang paling disukai Allah yaitu Abdullah dan Abdurrahman. • Nama-nama para nabi seperti Muhammad, Ibrahim, Yusuf, dan lain-lain. Sedangkan nama-nama yang sebaiknya dihindari adalah: • Nama-nama yang dapat mengotori kehormatan, menjadi bahan celaan atau cemoohan orang. • Nama yang berasal dari kata-kata yang mengandung makna pesimis atau negatif. • Nama-nama yang khusus bagi Allah swt. seperti Al-Ahad, Ash-Shamad, Al-Khaliq, dan lain-lain. Pengaruh nama pada anak Orangtua seharusnya berusaha memberikan sebutan nama yang baik, indah dan disenangi anak, karena nama seperti itu dapat membuat mereka memiliki kepribadian yang baik, memumbuhkan rasa cinta dan menghormati diri sendiri. Kemudian mereka kelak akan terbiasa dengan akhlak yang mulia saat berinteraksi dengan orang-orang disekelilingnya. Anak juga perlu mengetahui dan paham tentang arti namanya. Pemahaman yang baik terhadap nama mereka akan menimbulkan perasaan memiliki, perasaan nyaman, bangga dan perasaan bahwa dirinya berharga. Bagi lingkungan keluarga, adalah hal yang penting untuk menjaga agar nama anak-anak mereka disebut dan diucapkan dengan baik pula. Sebab ada kebiasaan dalam masyarakat kita yang suka mengubah nama anak dengan panggilan, julukan, atau nama kecil. Sayangnya nama panggilan ini terkadang malah mengacaukan nama aslinya. Nama panggilan ini kadang selain tidak bermakna kebaikan juga bisa mengandung pelecehan. Hal ini kadang terjadi karena nama anak terlalu sulit dilafalkan, baik oleh orang-orang disekitarnya bahkan bagi sang anak sendiri. Nama yang unik dan berbeda apalagi megah, mungkin memiliki keuntungan tersendiri. Namun nama yang demikian dapat menyebabkan beberapa masalah. Nama yang sulit diucapkan dapat membuat orang-orang sering salah mengucapkan atau menuliskannya. Ada suatu penelitian yang menunjukkan bahwa orang sering memberikan penilaian negatif pada seseorang yang memiliki nama yang aneh atau tidak biasa. Dr. Albert Mehrabian, PhD. melakukan penelitian tentang bagaimana sebuah nama mengubah persepsi orang lain tentang moral, keceriaan, kesuksesan, bahkan maskulinitas dan feminitas. Dalam pergaulan anak yang memiliki nama yang tidak biasa mungkin akan mengalami masa-masa diledek atau diganggu oleh teman-temannya karena namanya dianggap aneh. Pernah mendengar ada seseorang yang bernama Rahayu ternyata seorang laki-laki? Beruntunglah kita, karena di Indonesia nama-nama Islami sangat biasa dan banyak. Sehingga tidak ada alasan merasa malu atau aneh memiliki nama yang Islami. Hanya saja mungkin dari segi kepraktisan perlu dipertimbangkan nama anak yang cukup mudah diucapkan, tidak terlalu pasaran tapi tidak aneh, dan sebuah nama yang akan disandang anak kita dengan bangga sejak masa kanak-kanak hingga dewasa nanti. Wallahu alam.